Tampilkan postingan dengan label CERITA MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga


====> Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga

                        
                Bagi saya memang betul harta yang paling berharga adalah keluarga, dalam artian memiliki keluarga yang benar-benar menyayangi kita , keluarga yang selalu ada buat kita dalam kondisi apapun, keluarga yang selalu memberi motivasi disaat kita sedang terpuruk, maka harta yang paling berharga  adalah keluarga, percuma banyak materi tapi tidak mempunyai keluarga yang menyayangi kita.
                Dan ini lah kisah saya, alahamdulilah saya terlahir dari keluarga tidak miskin kurang kaya tapi sederhana, alhamdulilah memiliki kedua orangtua yang sangat menyangi dan sangat baik, walaupun hidup sederhana saya tetap bangga memiliki kedua orang tua yang selalu menyayangi saya sampai akhir hayat. Orang tua kehidupannya cukup sederhana beliau selalu berbuat baik kepada setiap orang karana beliau yakin kebaikan akan melahirkan kebaikan pula. Pada suatu hari ada seorang pedagang sapu lidi, si penjual sapu sangat lah tua, lalu ibu saya meberhentikan si penjual sapu tersebut untuk membeli sapunya, saya bilang “emih, begitulah panggilan saya kepada sang ibu, emih ngapain beli sapu lidi lagi, itu kan masih banyak sapu lidi di rumah, beliau bilang, memang sapu lidi di rumah kita sudah banyak tapi, emih hanya ingin membantu meringankan beban yang di pikul sang penjual sapu lidi tersebut, dengan kita membelinya kita sudah membantu meringankan beban yang dia bawa, toh nanti sapunya bisa kita kasih ke tetangga” begitulah jawaban ibu saya, dalam hati benar juga kita ini manusia haruslah saling membantu meringankan beban orang lain, karna suatau saat kita tidak lah tau keadan kedepannya mungikin nanti kita yang butuh pertolongan orang.
                Rumah saya di desa yang tidak begitu terpencil,tapi kehidupan di Desa sangatlah menyenangkan. Karena kehidupan bertetangga yang begitu akrab. Ibu saya di rumah sering sekali mengadakan open house bagi teman-teman saya. Jadi, di rumah teman-teman saya bebas mau bermain sesuka hati, mau menginap, makan minum sepuasnya, begitu juga dengan tetangga rumah. “mih, emih kok bebas gini sama teman-teman dan tetangga”, begitu tanya saya, beliu menjawab, nak kamu kan nanti ketika kamu lulus SMA mungkin saja pergi ke luar kota melanjutkan pendidikan ataupun yang laninya, dan semoga apa yang emih lakukan kepada teman-teman kamu dan tetangga akan berbuah sama kamu, “maksudnya mih”...? tanyaku kembali, ia jadi semoga nanti ketika kamu di luarkota akan banyak orang yang menolong kamu, seperti emih menolong taman-teman dan tetangg kita.
                 Singkat cerita akhirnya saya lulus SMA dan melanjutkan pendidikan ke kota Bogor, sesampainya di Bogor memang saya tinggal di asrama kampus untuk tahun pertama, tapi tahun ke dua dan selanjutnya harus keluar dari asrama karena akan di isi oleh adik kelas, sehingga saya harus mencari temapt tinggal baru atau kost. Mencari kosan bagi saya itu ibaratkan mencari jodoh cocok cocokan, kosan nya bagus tapi ibu kost nya jutek, ibu kost nya baik tapi kosannya kurang pas yah sama kayak jodoh, anaknya baik cantik tapi ibu bapaknya galak atau tidak setuju,  ibu bapaknya baik, anaknya gak mau, etsssss kok jadi ngomongin jodoh sih he, ok kembali ke kosant. Setelah lelah mencari seharian akhirnya saya dapat juga kosant yang tempatnya cocok dan ibu kostnya super super baik banget,. Jadi tempat tinggal yang saya jadikan kost itu memang awalnya bukanlah kos-kosant seperti yang lainnya, melainkan tempat tinggal biasa, kebetulan ibu kost ini anaknya sudah pada menikah semuanya dan banyak kamar yang kosong  akhirnya saya boleh lah kost di sana.
                Sebulan tinggal di rumah kost ini  sangat nyaman dan  sangat betah, karena ibu kostnya baik banget, tiap pagi udah dibikinin sarapan nasi goreng, roti bakar, teh manis, susu, behhh tiap pagi ganti-ganti lah menunya, mana ada coba kosan yang seperti ini. Ibu kost ini sangat baik sampai saya merasa seperti tinggal sama nenek sendiri begitu juga sebaliknya beliau udah menganggap saya seperti cucunya sendiri. Lumayan lama saya tinggal di tempat belaiu, oh ia saya lupa ngenalin namanya, jadi ibu kost saya ini namanya Ibu Een beliau tinggal di Gang Kepatihan 5 Kota Bogor. Hampir 3 tahun lebih saya tinggal bersamanya.
                Selain Ibu Een, ada juga Bu Linda, beliau itu udah seprti ibu angkat saya sendiri, saya kenal bu Linda ini pada saat saya kerja sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah di Kota Bogor, beliu begitu baik. Di sekolah tempat saya mengajar ini juga saya mendapatkan keluarga baru, termasuk bu Linda. Guru-guru yang lainnya juga sangat baik kepada saya, karena di tempat itu saya paling muda maka guru-guru menganggap saya sudah seperti anaknya sendiri *Khusus bagi yang umur 40 tahun ke atas ya, kalau umur 30 tahun mah mengaggap seperti adik sendiri*. Ada Pak Joko,Pak Maman, Bu Reni, Mis Ida, Mis Nisa, Mis Emra, Mis Andri, Mang Empi, Mang Ade, dan guru-guru yang lainnya.
                Satu tahun lebih saya mengajar di sekolah itu, kuliah beres, dan saya pun mencoba untuk melamar kerja ke Jakarta, alhamduliah dapat kerjaan baru di Jakarta, terpaksa saya harus berhenti menjadi tenaga pengajar dan memutuskan untuk pindah ke tempat kerja baru di Jakarta, sebenarnya hati ini masih enggan untuk pergi ke Jakarata karena sudah nyaman di Bogor.
                Sesampainya di Jakarta alhamdulilah tidak perlu cari kosant lagi karena kebetulan komite di tampat saya  dulu mengajar punya rumah di Jakarata dan Ibunya tinggal di sana. Jadi saya pun tinggal atau kost di tempat komite tersebut. Alhamdulilahnya lagi eyang, begitulah sapaan saya kepada ibu kost di sana karena semuanya pada panggil eyang, eyang itu orangnya sangat baik juga, selalu memberikan nasihat kepada saya, tambah lagi pembantu eyang, bu tini namnya beliau juga sama baiknya kayak eyang. Setiap berangkat pagi dan pulang kerja pasti selalu ada makanan di dalam kamar saya, anak eyang juga yang tadi sebagai komitu itu Pak Anggoro namanya begitu baik sama saya.
                Dapat  disimpulkan dari perjalanan saya itu bahwa benar kata orang tua saya dulu, ibu saya berbuat baik kepada semua orang  yang nantinya berharap ketika saya merantau akan ada juga orang yang berbuat baik kepada saya itu semua bnar-benar saya rasakan. Setiap perpindahan tempat tinggal alhamdulilah selalu dipertemukan dengan keluarga baru dan orang-orang yang sangat baik,  Jadi harta yang paling berharga buat saya adalah keluarga dan jangan berhenti untuk berbuat baik, apa yang kita tanam itu yang akan kita petik.

KITA AKAN MENJADI APA YANG KITA PERCAYAI

Pada kali ini saya akan membagikan cerita yang berjudul kita akan menjadi apa yang kita percayai, sebelum masuk kecerita saya ingin menanyakan sesuatu kepada seluruh pengunjung blog ini yang membaca artikel ini. yang ingin saya tanyakan ialah “Anda ingin menjadi apa?”. Untuk seluruh teman teman pembaca, yang ingin berbagi informasi tentang cita cita atau keingin Anda, bisa kalian share di halaman komentar pada post ini.

Sekarang mari kita masuk ke pokok cerita. Pada suatu hari, ada sebuah sarang elang yang berada di lereng bukit, pada sarang tersebut terdapat 5 butir telur elang yang sedang di erami oleh induknya. Akan tetapi pada suatu hari telah terjadi gempa kecil yang terjadi di lereng bukit tersebut, hal tersebut menyebabkan 1 butir telur atau salah satu butir telur tersebut terpental dari sarangnya dan terjatuh menggelinding ke bawah. Telur tersebut cukup kuat sehingga tidak pecah ketika menggelinding kebawah, Beruntungnya ketika bergelinding kebawah, telur tersebut justru masuk kedalam sebuah sangkar ayam. Didalam sangkar tersebut terdapat seekor ayam betina yang sedang mengerami telur telurnya. Melihat ada sebutir telur didekatnya ayam betina itu justru berfikir kalau telur itu adalah salah satu telur ayam miliknya, sehingga dia memasukkan telur tersebut dan mengeraminya bersamaan dengan telur telur dia yang lainnya.
menjadi apa yang kita percayai
Beberapa hari kemudian menetaslah satu persatu telur telur yang dikerami oleh induk ayam betina tersebut. Diantara anak anak ayam yang baru saja menetas ada satu ekor yang berbeda diantara anak anak ayam yang lainnya. Satu ekor tersebut ialah seekor anak elang yang telah terpisah dengan dari induknya semasa dia masih sebuah telur dan kemudian dia dikerami oleh ayam betina. Kita ia terlahir di lingkungan keluarga ayam. Lama kemudian Elang kecil itu, tumbuh bersama anak-anak ayam lainnya. Dan si Elang kecil itupun percaya bahwa ia adalah seekor anak ayam. Ia juga mencintai sangkar dan induk ayam, namun, ada keinginan lain di hati kecilnya.
Elang kecil itu, suatu ketika, melihat elang-elang besar yang sedang mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa. Ia kagum sekali dengan kegagahan mereka.
“Andai aku dapat terbang seperti burung burung itu.” – ucapnya sambil menatap langit.
Mendengar ucapan elang itu, anak anak ayam tertawa sambil meledek si elang kecil itu.
“Hahaha.. kamu jangan bermimpi untuk bisa terbang seperti mereka, Kamu itu seekor ayam, dan ayam tidak akan bisa terbang seperti burung burung itu!” – ucap anak ayam.
anak anak ayam tersebut terus menertawakan si elang kecil itu, tapi si elang itu tetap saja menatap ke arah langit memandangi kekaguman burung burung elang yang terbang dengan gagah.
Setiap hari si elang kecil itu terus memandangi dan melihat burung burung elang yang sedang terbang dengan gagahnya, dan ia terus berandai andai untuk bisa terbang tinggi seperti burung burung itu, tapi setiap hari juga dia selalu di ejek dengan keluarga ayamnya.
Karena setiap hari dia selalu di ejek oleh anak anak ayam serta di nasehati oleh induk ayam bahwa dia hanya seekor ayam yang tidak mungkin bisa terbang membuat si anak elang kecil tersebut menjadi pesimis akan mimpinya tersebut. Dengan banyaknya ejekan dan nasihat yang sering dia dengarkan membuat si elang tersebut menghentikan dan melupakan mimpinya dan hidup seperti layaknya ayam biasa. Setelah sekian lama dia hidup menderita menjadi seekor ayam akhirnya lama kelamaan elang kecil tersebut mati.
menyerah dan kalah

Jangan Menyerah Untuk Menjadi Apa Yang Kita Percayai

Cerita diatas hanyalah sebuah cerita fiktif, dari cerita tersebut setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya untuk kehidupan kita tentang pentingnya memiliki mimpi dan jangan menyerah serta terus berusaha untuk mempercayai bahwa mimpi kita akan dapat terkabul jika kita berusaha untuk berjuang menggapai mimpi kita. Dari cerita diatas juga kita dapat melihat, Andai saja jika elang kecil itu mempercayai apa yang dia impikan tersebut (bisa terbang tinggi), tentu saja dia akan mampu mewujudkan mimpinya dan terbang tinggi seperti keluarga asli dia. Tapi dia tidak berani untuk mempercayai bahwa dia mampu untuk mewujudkan mimpinya hanya karena mendengar ejekan dari keluarga ayamnya.
Memang kita tidak dapat memilih siapa yang melahirkan kita, dan hidup dikeluarga apa ketika kita baru lahir. tapi yang harus kita percayai bahwa, ketika kita dilahirkan di dunia ini, kita terlahir dalam keadaan sama dengan bayi lainnya. Ketika orang lain bisa menjadi sesuatu yang mereka impikan tentunya kita juga dapat mewujudkan mimpi kita juga. Terkadang memang pada saat kita memiliki mimpi dan ingin berusaha mewujudkan mimpi kita, selalu saja ada orang yang meremehkan mimpi kita dan berfikir bahwa kita tidak akan bisa mewujukan mimpi kita.
Jangan menjadi elang kecil itu yang takut mewujudkan mimpinya hanya karena mendapat ejekan dari orang lain. Selama mimpimu itu tidak mengganggu dan merugikan orang lain, jangan pernah takut untuk gagal. Selalu ada pro dan kontra dalam setiap tindakan. Tapi dengan kepercayaan yang kita miliki dan kerja keras, apapun mimpi kita pasti akan terkabulkan.
Kita akan menjadi apa yang kita percayai dan kita impikan jika kita mau berusaha dan berkerja keras untuk mewujukan mimpi itu. Jangan takut gagal jangan takut akan hinaan orang lain, selama itu tidak merugikan orang lain, lakukanlah dan gapai lah mimpi yang kita percayai bahwa kita mampu melakukannya, karena mimpi yang dapat terwujud ialah mimpi yang kita yakini bahwa kita dapat mewujudkannya.

BERSYUKURLAH

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut.
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.







POHON DAN ANAK

Ada pohon besar di dalam hutan dengan batang yang tebal, banyak dahan besar, dan berdaun rimbun. Seorang anak yang kesepian datang ke pohon itu untuk bermain.
Anak itu membayangkan ia mendengar pohon itu berkata ramah kepadanya, “Ayo panjatlah aku. Bangunlah rumah bermain kecil di atas sini. Kamu boleh menggunakan dahan kecilku jika kamu mau, juga daunku yang berlimpah.” Maka anak itu memanjat pohon itu, mematahkan beberapa ranting, mengambil dedaunan, dan membuat rumah rahasia yang tinggi di pohon itu. Meski itu menyakiti pohon, namun pohon itu bahagia berkorban sedikit untuk melihat anak itu mendapatkan begitu banyak kesenangan. Selama hari-hari yang panjang, anak itu akan bermain di dalam rumah pohon. Pohon itu puas.
Ketika anak itu tumbuh lebih dewasa, ia berhenti bermain di pohon itu. Pohon itu menjadi sedih, rantingnya merunduk dan deadunannya kehilangan kilaunya.
Selang beberapa tahun, anak yang kini remaja itu kembali.  Pohon itu kegirangan melihatnya lagi. Pemuda itu merasa ia mendengar pohon itu berkata, “Ayo panjatlah aku lagi. Rumah pohon lamamu masih di sini. Aku merindukanmu.”
“Kini aku terlalu tua untuk bermain rumah pohon,’ pikir remaja itu. “Aku ingin kuliah tapi aku terlalu miskin.”
“Tidak masalah,’ pohon itu tampaknya berkata, “Kembalilah seminggu lagi. Aku akan mengeluarkan buah. Aku akan hasilkan ekstra. Silakan panen semua buahku dan juallah untuk membayar biaya kuliahmu.”
Maka anak itu kembali tujuh hari kemudian. Pohon itu dipenuhi buah ranum. Anak itu mengambil semuanya sampai buah yang terkahir, menjualnya, dan cukup untuk biaya kuliah satu tahun. Pohon itu sangat bahagia.
Anak itu kembali selama tiga tahun berikutnya, mengambil setiap buahnya dan menjualnya untuk memenuhi biayanya. Pohon itu gembira. Pohon itu bahkan kelihatannya berusaha lebih keras tiap tahunnya untuk menghasilkan lebih banyak buah untuk sahabatnya, meskipun ini membuat pohon itu kelelahan dan makin sakit.
Ketika anak itu lulus, ia berhenti datang. Pohon itu sedih lagi. Beberapa tahun kemudian, anak itu, kini menjadi pemuda, kembali. Ia memiliki kesan yang sangat jelas bahwa pohon tua itu menangis kegirangan melihatnya lagi. “Tunggu beberapa hari lagi. Walau aku kini agak lemah, aku masih bisa menghasilkan banyak buah agar kamu jual untuk biaya kuliahmu.”
“Aku tidak kuliah lagi,” kata pemuda itu, “aku sudah punya pekerjaan. Aku sudah jatuh cinta dan ingin menikah, namun kami membutuhkan rumah untuk ditinggali.”
“Tidak masalsah,” pohon itu agaknya berkata, “kembalilah besok dengan gergaji. Ambil dahan tebalku. Itu bisa untuk membuat papan lantai dan tiang yang kuat. Bahkan ada cukup kayu untuk membuat dindingnya. Gunakan dahan kecil dan daun besar untuk atapnya. Ada banyak.”
Demikianlah, hari berikutnya, pemuda itu mengambil seluruh dahan dan daun untuk membuat rumahnya, menyisakan hanya batangnya. Meski itu melukai pohon itu dengan parah, pohon itu bahagia membuat pengorbanan besar untuk seseorang yang dicintainya.
Selama bertahun-tahun, anak itu tidak pernah kembali. Pohon itu bergantung pada kenangan bahagianya untuk mempertahankan hidupnya.
Kala anak itu datang lagi, kini menjadi pria setengah baya, pohon itu nyaris melompat keluar dari tanah dengan sukacita. “Selamat datang! Sungguh bahagia melihatmu lagi!” Bahkan kali ini burung-burung pun bisa mendengar pohon itu. “Apa yang bisa kulakukan untukmu? Mohon izinkan aku membantu.”
“Aku kini punya anak,” jawab pria itu, “dan aku ingin memulai usaha perabotanku sendiri untuk mendapat cukup uang untuk memberi mereka kehidupan yang baik.”
“Bagus sekali,” kata pohon tua itu, “meski kamu mungkin berpikir aku cuma tunggul tua, ada banyak kayu indah dalam batangku untuk membuat banyak perabot mahal. Ambillah. Aku akan bahagia jika kamu ambil semua.”
Maka pria itu datang esoknya, menebang batang pohon itu dan mendapat cukup banyak kayu kelas satu untuk memulai usaha perabotannya.
Tak lama setelahnya, pohon itu mati.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu, kini telah menjadi orangtua, mengunjungi tempat dimana pohon yang sehat itu pernah berdiri, tempat ia membangun rumah pohon semasa ia kecil, yang selalu begitu dermawan kepadanya. Yang tersisa hanyalah akar yang melapuk. Orang tua itu membaringkan kepalanya di atas akar-akar itu sejenak. Akar itu jauh lebih nyaman daripada bantal bulu. Ia ingat dengan berurai air mata bagaimana pohon itu telah menolongnya, tanpa bertanya, tiap kali ia membutuhkan pertolongan. Bagaimana pohon itu mengorbankan segalanya untuknya, dan bahagia melakukannya setiap saat. Ia pu tertidur.
Ketika ia bangun dari mimpi itu, ia menyadari bahwa pohon itu adalah orangtuanya.


IBX5A7156260C64D