Tsunami Tanjung Lesung Membawa Duka Juga Menambah Keluarga Baru


22 Desember 2018, sore itu cuaca sangat cerah, saya baru saja pulang dari daerah Tanjung Lesung untuk mencari vila karena teman dari bogor akan berlibur ke pantai Tanjung Lesung. Saya berangkat bersama sepupu pukul 09.00 WIB ke Tanjung Lesung, tujuan saya adalah mengajak sepupu yang kebetulan lagi libur sekolah untuk snorkling dan sekaligus mencari vila untuk teman yang dari bogor. Hari itu cuaca sangat cerah, air laut tenang dan juga jernih hampir 1 jam lebih saya snorkling di pantai Tanjung Lesung Beach Club. Setelah puas bermain air saya kembali ke darat untuk makan siang, sepupu saya memsan ikan bakar dan cumi asam manis di tambah dengan air kelapa muda, selesai makan langsung shlat duhur lalu pulang, tidak lupa di sepanjang jalan pulang saya mencari vila, hampir 4 tempat yang saya datangi semua vila sudah penuh. Lanjut mencari lagi akhirnya dapat 1 penginapan yang hanya bisa di isi 8 orang saja karena yang lain sudah penuh, akhirnya saya booking tempat itu untuk acara nanti malam.
Vila dapat, tinggal cari ikan bakar untuk nanti ketika teman dari Bogor samapai di rumah, saya langsung bakar ikan, makan-makan langsung berangkat ke vila. Malam itu saya masih berkomunikasi dengan teman yang di Bogor memastikan jam berapa mereka akan berangkat, sehabis isya baru ada caht masuk dan teman saya berangkat sekitar jam 10 malam. Saya keluar dari kamar menuju ruang tamu dan menyalakan Tv sambil menungu teman yang dari Bogor. Baru 30 menit saya duduk di ruang tamu tiba-tiba di depan rumah sudah ramai banyak orang yang berkerumun sambil teriak tsunami tsunami tsunami, sontak saya langsung membangunkan orangtua saya, langsung keluar rumah, di depan rumah sudah banyak sekali motor,mobil berjejer yang penuh dengan orang-orang, motor mobil itu berasal dari warga yang berada di daerah pesisir pantai, ada yang membawa lemari, baju-baju dan yang lainnya ramai sekali malam itu.
Seolah tidak percaya akan adanya bencana tsunami, karena malam itu terang bulan cuaca bagus tidak ada tanda-tanda akan ada tsunami, setelah 30 menit saya bediri di depan rumah tiba-tiba ada satu mobil  yang melaju sangat kencang lalu berhenti di depan puskesmas, kebetulan rumah saya sangat dekat dengan puskesma. Langsung berlari menuju pintu gerbang puskesmas membantu membuka pintu gerbang, terdengar teriakan minta tolong di dalam mobil tersebut, “mas, tolong mas,”. Langsung saya buka pintu mobil ternya orang itu adalah korban tsunami Tanjung Lesung , beliau adalah Crew dari tim  Jigo, tanpa lama langsung saya menolongnya dan membawa ke dalam puskesmas agar mendapat penanganan medis, karena luka yang cukup parah, di bagian kuping sebelah kanan pada sobek dan juga lutut. Hanya berselang 3 menit saja puskesmas Cigeulis langsung penuh oleh para korbar tsunami tanjung lesung,  semua ruangan puskesmas sudah penuh, ada yang hanya di lantai beralaskan tikar saja, suasana malam itu sangat mencekam, banyak sekali korban yang saya lihat mengalami luka-luka, ada yang patah tulang, kepalanya bolong, luka sobek-sobek di kaki dan yang lainnya. Para korban tsunami ini merupakan para tamu hotel tanjung lesung yang sedang mengadakan Gathring ada yang dari PLN dan juga dari Kemenpora.
Setelah evakuasi korban dari mobil ke puskesmas, saya langsung mengubungi teman saya yang akan berangkat malam itu, alhamdulilah teman saya masih dalam perjalanan dan memutuskan untuk putar balik ke Bogor. Saya langsung kembali ke Puskesmas dengan membawa beberapa baju dan sarung untuk para korban, karena mereka dalam keadaan baju pada sobek-sobek. Sesampainya di puskesmas ada 3 orang korban datang 1 perempuan dan 2 orang laki-laki, langsung saya membantunya, setelah mendapatkan pertolongan medis, ada 2 orang korban yaitu bang Kinoy Wartawan Kemenpora dan Bang Oji pegawai PLN, mereka meminta saya untuk mencoba menghubungi keluarga nya, “mas, boleh pinjam Hpnya sebentar”  begitu seru bang Kinoy kepada saya, “oh ia bang silahkan”  jawab saya, alhamdulilah Bang Kinoy waktu itu ingat no telpon rumah dan istrinya, setelah menelpon istrinya Bang Kinoy langsung berbaring kembali, beliau luka nya tidak begitu parah, hanya memar diabagian paha kanan saja. Sedangkan Bang Oji lukanya lumayan parah, kakinya di jahit dan juga di kening, Bang Oji meminta saya untuk menghubungi keluarganya, tapi beliau ini sama sekali tidak ingat No telpon rumah maupun no telpon istrinya, akhirnya saya menyarankan untuk mencarinya di FB, saya mencari nama istrinya alahamdulilah ketemu, langsung saya inbox tapi blemu ada balasan mungkin sudah tidur karena sudah tengah malam, waktu itu jam 12.30 malam.
Masih ada korban yang perempuan, dia ini  luka sangat parah, kaki kanan luka dari mata kaki sobek sampai lutut, Sherly namanya,pegawai dari Kemenpora, kondisi nya malam itu sangat lemah, ketikak saya tanya no telpon yang bisa di hubungi sherly hanya menggelengkan kepala, dan bilang tidak ingat no orang tua ataupun keluarga lainnya.
Semakin malam korban semakin banyak berdatangan, akhirnya saya menawarkan kepada Bang Kinoy untuk menginap di rumah saya karena Bang Kinoy  masih bisa berjalan, sedangkan Bang Oji dan Sherly benar benar tidak bisa berjalan. Bang Kinoy menerima ajakan saya, langsung saya antar ke rumah dan istirahat di rumah, malma itu di rumah saya sudah banyak orang-orang yang mengungsi.
Jam 04.00, ada inbox masuk, rupanya itu adalah keluarga dari Bang Oji yang semalam saya hubungi, saya kembali ke puskesmas untuk menemui Bang Oji dan memberitahukan kalalu sudah ada keluarga yang bisa di hubungi. Sekitar jam 07.00 Bang Oji langsung di bawa oleh pegawai PLN yang lainnya untuk di pindahkan ke rumah sakit yang dekat dengan rumah Bang Oji yaitu di Depok. Saya kembali menemui Sherly dan bertanya kembali siapa kira-kira keluarga yang bisa di hubungi, namun Sherly masih belum tau no telpon keluarga, akhirnya saya menanyakan teman yang bisa di hubungi lewat FB ataupun IG, Sherly memberi tau saya kalau ada teman yang bisa dihubungi lewat IG, langsung saya hubungi,alhamdulilah langsung  ada respon. Sherly di bawa keluarga pulang sekitar pukul 14.00.  Semakin siang korban yang baru ketemu semakin banyak, ada yang sudah meninggal dan banyak juga yang luka berat. Setelah Sherly di jemput keluarganya tinggal Bang Kinoy yang menunggu keluarga jemput. Alhamduliah sekitar jam 7 malam keluarga Bang Kinyo samapi di rumah saya. Setelah semuanya pada pulang di rumah saya masih sangat penuh dengan orang-orang yang mengungsi. Tetapi di puskesmas sudah sepi, karena semua korban sudah pada di bawa pulang oleh keluarganya.
Senin, 24 Desember 2018, semua korban yang saya tolong sudah pada di rawat di Rumah Sakit yang lebih baik lagi, Bang Oji langsung Vidio Call saya dan bilang beliau sudah di Rumah Sakit Cinere Depok, Kakaknya Sehrly chat saya kalau Sherly sudah di Rumah Sakit Olahraga Nasional Cibubur, dan Bang Kinoy hanya rawat jalan saja, karena luka memar yang di paha sebelah kanan.
Satu minggu berlalu dari kejadian tsunami tanjung lesung, saya kembali berangkat ke Kota Bogor, sesampainya di Bogor saya langsung menjenguk Bang Kinoy, Bang Oji, dan juga Sherly, alhamduliah dari kejadian itu saya punya keluarga baru di setiap daerah, Bang Kinoy dari Kemayoran, Bang Oji Depok, Sherly dari Citayam. Alhamdulilah samapai saat ini saya masih berkomunikasi dengan baik bersama Bang Kinoy, Bang Oji juga Sherly. Semoga para korba dapat segera pulih kembali. Amin.

Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga


====> Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga

                        
                Bagi saya memang betul harta yang paling berharga adalah keluarga, dalam artian memiliki keluarga yang benar-benar menyayangi kita , keluarga yang selalu ada buat kita dalam kondisi apapun, keluarga yang selalu memberi motivasi disaat kita sedang terpuruk, maka harta yang paling berharga  adalah keluarga, percuma banyak materi tapi tidak mempunyai keluarga yang menyayangi kita.
                Dan ini lah kisah saya, alahamdulilah saya terlahir dari keluarga tidak miskin kurang kaya tapi sederhana, alhamdulilah memiliki kedua orangtua yang sangat menyangi dan sangat baik, walaupun hidup sederhana saya tetap bangga memiliki kedua orang tua yang selalu menyayangi saya sampai akhir hayat. Orang tua kehidupannya cukup sederhana beliau selalu berbuat baik kepada setiap orang karana beliau yakin kebaikan akan melahirkan kebaikan pula. Pada suatu hari ada seorang pedagang sapu lidi, si penjual sapu sangat lah tua, lalu ibu saya meberhentikan si penjual sapu tersebut untuk membeli sapunya, saya bilang “emih, begitulah panggilan saya kepada sang ibu, emih ngapain beli sapu lidi lagi, itu kan masih banyak sapu lidi di rumah, beliau bilang, memang sapu lidi di rumah kita sudah banyak tapi, emih hanya ingin membantu meringankan beban yang di pikul sang penjual sapu lidi tersebut, dengan kita membelinya kita sudah membantu meringankan beban yang dia bawa, toh nanti sapunya bisa kita kasih ke tetangga” begitulah jawaban ibu saya, dalam hati benar juga kita ini manusia haruslah saling membantu meringankan beban orang lain, karna suatau saat kita tidak lah tau keadan kedepannya mungikin nanti kita yang butuh pertolongan orang.
                Rumah saya di desa yang tidak begitu terpencil,tapi kehidupan di Desa sangatlah menyenangkan. Karena kehidupan bertetangga yang begitu akrab. Ibu saya di rumah sering sekali mengadakan open house bagi teman-teman saya. Jadi, di rumah teman-teman saya bebas mau bermain sesuka hati, mau menginap, makan minum sepuasnya, begitu juga dengan tetangga rumah. “mih, emih kok bebas gini sama teman-teman dan tetangga”, begitu tanya saya, beliu menjawab, nak kamu kan nanti ketika kamu lulus SMA mungkin saja pergi ke luar kota melanjutkan pendidikan ataupun yang laninya, dan semoga apa yang emih lakukan kepada teman-teman kamu dan tetangga akan berbuah sama kamu, “maksudnya mih”...? tanyaku kembali, ia jadi semoga nanti ketika kamu di luarkota akan banyak orang yang menolong kamu, seperti emih menolong taman-teman dan tetangg kita.
                 Singkat cerita akhirnya saya lulus SMA dan melanjutkan pendidikan ke kota Bogor, sesampainya di Bogor memang saya tinggal di asrama kampus untuk tahun pertama, tapi tahun ke dua dan selanjutnya harus keluar dari asrama karena akan di isi oleh adik kelas, sehingga saya harus mencari temapt tinggal baru atau kost. Mencari kosan bagi saya itu ibaratkan mencari jodoh cocok cocokan, kosan nya bagus tapi ibu kost nya jutek, ibu kost nya baik tapi kosannya kurang pas yah sama kayak jodoh, anaknya baik cantik tapi ibu bapaknya galak atau tidak setuju,  ibu bapaknya baik, anaknya gak mau, etsssss kok jadi ngomongin jodoh sih he, ok kembali ke kosant. Setelah lelah mencari seharian akhirnya saya dapat juga kosant yang tempatnya cocok dan ibu kostnya super super baik banget,. Jadi tempat tinggal yang saya jadikan kost itu memang awalnya bukanlah kos-kosant seperti yang lainnya, melainkan tempat tinggal biasa, kebetulan ibu kost ini anaknya sudah pada menikah semuanya dan banyak kamar yang kosong  akhirnya saya boleh lah kost di sana.
                Sebulan tinggal di rumah kost ini  sangat nyaman dan  sangat betah, karena ibu kostnya baik banget, tiap pagi udah dibikinin sarapan nasi goreng, roti bakar, teh manis, susu, behhh tiap pagi ganti-ganti lah menunya, mana ada coba kosan yang seperti ini. Ibu kost ini sangat baik sampai saya merasa seperti tinggal sama nenek sendiri begitu juga sebaliknya beliau udah menganggap saya seperti cucunya sendiri. Lumayan lama saya tinggal di tempat belaiu, oh ia saya lupa ngenalin namanya, jadi ibu kost saya ini namanya Ibu Een beliau tinggal di Gang Kepatihan 5 Kota Bogor. Hampir 3 tahun lebih saya tinggal bersamanya.
                Selain Ibu Een, ada juga Bu Linda, beliau itu udah seprti ibu angkat saya sendiri, saya kenal bu Linda ini pada saat saya kerja sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah di Kota Bogor, beliu begitu baik. Di sekolah tempat saya mengajar ini juga saya mendapatkan keluarga baru, termasuk bu Linda. Guru-guru yang lainnya juga sangat baik kepada saya, karena di tempat itu saya paling muda maka guru-guru menganggap saya sudah seperti anaknya sendiri *Khusus bagi yang umur 40 tahun ke atas ya, kalau umur 30 tahun mah mengaggap seperti adik sendiri*. Ada Pak Joko,Pak Maman, Bu Reni, Mis Ida, Mis Nisa, Mis Emra, Mis Andri, Mang Empi, Mang Ade, dan guru-guru yang lainnya.
                Satu tahun lebih saya mengajar di sekolah itu, kuliah beres, dan saya pun mencoba untuk melamar kerja ke Jakarta, alhamduliah dapat kerjaan baru di Jakarta, terpaksa saya harus berhenti menjadi tenaga pengajar dan memutuskan untuk pindah ke tempat kerja baru di Jakarta, sebenarnya hati ini masih enggan untuk pergi ke Jakarata karena sudah nyaman di Bogor.
                Sesampainya di Jakarta alhamdulilah tidak perlu cari kosant lagi karena kebetulan komite di tampat saya  dulu mengajar punya rumah di Jakarata dan Ibunya tinggal di sana. Jadi saya pun tinggal atau kost di tempat komite tersebut. Alhamdulilahnya lagi eyang, begitulah sapaan saya kepada ibu kost di sana karena semuanya pada panggil eyang, eyang itu orangnya sangat baik juga, selalu memberikan nasihat kepada saya, tambah lagi pembantu eyang, bu tini namnya beliau juga sama baiknya kayak eyang. Setiap berangkat pagi dan pulang kerja pasti selalu ada makanan di dalam kamar saya, anak eyang juga yang tadi sebagai komitu itu Pak Anggoro namanya begitu baik sama saya.
                Dapat  disimpulkan dari perjalanan saya itu bahwa benar kata orang tua saya dulu, ibu saya berbuat baik kepada semua orang  yang nantinya berharap ketika saya merantau akan ada juga orang yang berbuat baik kepada saya itu semua bnar-benar saya rasakan. Setiap perpindahan tempat tinggal alhamdulilah selalu dipertemukan dengan keluarga baru dan orang-orang yang sangat baik,  Jadi harta yang paling berharga buat saya adalah keluarga dan jangan berhenti untuk berbuat baik, apa yang kita tanam itu yang akan kita petik.

KITA AKAN MENJADI APA YANG KITA PERCAYAI

Pada kali ini saya akan membagikan cerita yang berjudul kita akan menjadi apa yang kita percayai, sebelum masuk kecerita saya ingin menanyakan sesuatu kepada seluruh pengunjung blog ini yang membaca artikel ini. yang ingin saya tanyakan ialah “Anda ingin menjadi apa?”. Untuk seluruh teman teman pembaca, yang ingin berbagi informasi tentang cita cita atau keingin Anda, bisa kalian share di halaman komentar pada post ini.

Sekarang mari kita masuk ke pokok cerita. Pada suatu hari, ada sebuah sarang elang yang berada di lereng bukit, pada sarang tersebut terdapat 5 butir telur elang yang sedang di erami oleh induknya. Akan tetapi pada suatu hari telah terjadi gempa kecil yang terjadi di lereng bukit tersebut, hal tersebut menyebabkan 1 butir telur atau salah satu butir telur tersebut terpental dari sarangnya dan terjatuh menggelinding ke bawah. Telur tersebut cukup kuat sehingga tidak pecah ketika menggelinding kebawah, Beruntungnya ketika bergelinding kebawah, telur tersebut justru masuk kedalam sebuah sangkar ayam. Didalam sangkar tersebut terdapat seekor ayam betina yang sedang mengerami telur telurnya. Melihat ada sebutir telur didekatnya ayam betina itu justru berfikir kalau telur itu adalah salah satu telur ayam miliknya, sehingga dia memasukkan telur tersebut dan mengeraminya bersamaan dengan telur telur dia yang lainnya.
menjadi apa yang kita percayai
Beberapa hari kemudian menetaslah satu persatu telur telur yang dikerami oleh induk ayam betina tersebut. Diantara anak anak ayam yang baru saja menetas ada satu ekor yang berbeda diantara anak anak ayam yang lainnya. Satu ekor tersebut ialah seekor anak elang yang telah terpisah dengan dari induknya semasa dia masih sebuah telur dan kemudian dia dikerami oleh ayam betina. Kita ia terlahir di lingkungan keluarga ayam. Lama kemudian Elang kecil itu, tumbuh bersama anak-anak ayam lainnya. Dan si Elang kecil itupun percaya bahwa ia adalah seekor anak ayam. Ia juga mencintai sangkar dan induk ayam, namun, ada keinginan lain di hati kecilnya.
Elang kecil itu, suatu ketika, melihat elang-elang besar yang sedang mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa. Ia kagum sekali dengan kegagahan mereka.
“Andai aku dapat terbang seperti burung burung itu.” – ucapnya sambil menatap langit.
Mendengar ucapan elang itu, anak anak ayam tertawa sambil meledek si elang kecil itu.
“Hahaha.. kamu jangan bermimpi untuk bisa terbang seperti mereka, Kamu itu seekor ayam, dan ayam tidak akan bisa terbang seperti burung burung itu!” – ucap anak ayam.
anak anak ayam tersebut terus menertawakan si elang kecil itu, tapi si elang itu tetap saja menatap ke arah langit memandangi kekaguman burung burung elang yang terbang dengan gagah.
Setiap hari si elang kecil itu terus memandangi dan melihat burung burung elang yang sedang terbang dengan gagahnya, dan ia terus berandai andai untuk bisa terbang tinggi seperti burung burung itu, tapi setiap hari juga dia selalu di ejek dengan keluarga ayamnya.
Karena setiap hari dia selalu di ejek oleh anak anak ayam serta di nasehati oleh induk ayam bahwa dia hanya seekor ayam yang tidak mungkin bisa terbang membuat si anak elang kecil tersebut menjadi pesimis akan mimpinya tersebut. Dengan banyaknya ejekan dan nasihat yang sering dia dengarkan membuat si elang tersebut menghentikan dan melupakan mimpinya dan hidup seperti layaknya ayam biasa. Setelah sekian lama dia hidup menderita menjadi seekor ayam akhirnya lama kelamaan elang kecil tersebut mati.
menyerah dan kalah

Jangan Menyerah Untuk Menjadi Apa Yang Kita Percayai

Cerita diatas hanyalah sebuah cerita fiktif, dari cerita tersebut setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya untuk kehidupan kita tentang pentingnya memiliki mimpi dan jangan menyerah serta terus berusaha untuk mempercayai bahwa mimpi kita akan dapat terkabul jika kita berusaha untuk berjuang menggapai mimpi kita. Dari cerita diatas juga kita dapat melihat, Andai saja jika elang kecil itu mempercayai apa yang dia impikan tersebut (bisa terbang tinggi), tentu saja dia akan mampu mewujudkan mimpinya dan terbang tinggi seperti keluarga asli dia. Tapi dia tidak berani untuk mempercayai bahwa dia mampu untuk mewujudkan mimpinya hanya karena mendengar ejekan dari keluarga ayamnya.
Memang kita tidak dapat memilih siapa yang melahirkan kita, dan hidup dikeluarga apa ketika kita baru lahir. tapi yang harus kita percayai bahwa, ketika kita dilahirkan di dunia ini, kita terlahir dalam keadaan sama dengan bayi lainnya. Ketika orang lain bisa menjadi sesuatu yang mereka impikan tentunya kita juga dapat mewujudkan mimpi kita juga. Terkadang memang pada saat kita memiliki mimpi dan ingin berusaha mewujudkan mimpi kita, selalu saja ada orang yang meremehkan mimpi kita dan berfikir bahwa kita tidak akan bisa mewujukan mimpi kita.
Jangan menjadi elang kecil itu yang takut mewujudkan mimpinya hanya karena mendapat ejekan dari orang lain. Selama mimpimu itu tidak mengganggu dan merugikan orang lain, jangan pernah takut untuk gagal. Selalu ada pro dan kontra dalam setiap tindakan. Tapi dengan kepercayaan yang kita miliki dan kerja keras, apapun mimpi kita pasti akan terkabulkan.
Kita akan menjadi apa yang kita percayai dan kita impikan jika kita mau berusaha dan berkerja keras untuk mewujukan mimpi itu. Jangan takut gagal jangan takut akan hinaan orang lain, selama itu tidak merugikan orang lain, lakukanlah dan gapai lah mimpi yang kita percayai bahwa kita mampu melakukannya, karena mimpi yang dapat terwujud ialah mimpi yang kita yakini bahwa kita dapat mewujudkannya.

BERSYUKURLAH

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut.
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.







POHON DAN ANAK

Ada pohon besar di dalam hutan dengan batang yang tebal, banyak dahan besar, dan berdaun rimbun. Seorang anak yang kesepian datang ke pohon itu untuk bermain.
Anak itu membayangkan ia mendengar pohon itu berkata ramah kepadanya, “Ayo panjatlah aku. Bangunlah rumah bermain kecil di atas sini. Kamu boleh menggunakan dahan kecilku jika kamu mau, juga daunku yang berlimpah.” Maka anak itu memanjat pohon itu, mematahkan beberapa ranting, mengambil dedaunan, dan membuat rumah rahasia yang tinggi di pohon itu. Meski itu menyakiti pohon, namun pohon itu bahagia berkorban sedikit untuk melihat anak itu mendapatkan begitu banyak kesenangan. Selama hari-hari yang panjang, anak itu akan bermain di dalam rumah pohon. Pohon itu puas.
Ketika anak itu tumbuh lebih dewasa, ia berhenti bermain di pohon itu. Pohon itu menjadi sedih, rantingnya merunduk dan deadunannya kehilangan kilaunya.
Selang beberapa tahun, anak yang kini remaja itu kembali.  Pohon itu kegirangan melihatnya lagi. Pemuda itu merasa ia mendengar pohon itu berkata, “Ayo panjatlah aku lagi. Rumah pohon lamamu masih di sini. Aku merindukanmu.”
“Kini aku terlalu tua untuk bermain rumah pohon,’ pikir remaja itu. “Aku ingin kuliah tapi aku terlalu miskin.”
“Tidak masalah,’ pohon itu tampaknya berkata, “Kembalilah seminggu lagi. Aku akan mengeluarkan buah. Aku akan hasilkan ekstra. Silakan panen semua buahku dan juallah untuk membayar biaya kuliahmu.”
Maka anak itu kembali tujuh hari kemudian. Pohon itu dipenuhi buah ranum. Anak itu mengambil semuanya sampai buah yang terkahir, menjualnya, dan cukup untuk biaya kuliah satu tahun. Pohon itu sangat bahagia.
Anak itu kembali selama tiga tahun berikutnya, mengambil setiap buahnya dan menjualnya untuk memenuhi biayanya. Pohon itu gembira. Pohon itu bahkan kelihatannya berusaha lebih keras tiap tahunnya untuk menghasilkan lebih banyak buah untuk sahabatnya, meskipun ini membuat pohon itu kelelahan dan makin sakit.
Ketika anak itu lulus, ia berhenti datang. Pohon itu sedih lagi. Beberapa tahun kemudian, anak itu, kini menjadi pemuda, kembali. Ia memiliki kesan yang sangat jelas bahwa pohon tua itu menangis kegirangan melihatnya lagi. “Tunggu beberapa hari lagi. Walau aku kini agak lemah, aku masih bisa menghasilkan banyak buah agar kamu jual untuk biaya kuliahmu.”
“Aku tidak kuliah lagi,” kata pemuda itu, “aku sudah punya pekerjaan. Aku sudah jatuh cinta dan ingin menikah, namun kami membutuhkan rumah untuk ditinggali.”
“Tidak masalsah,” pohon itu agaknya berkata, “kembalilah besok dengan gergaji. Ambil dahan tebalku. Itu bisa untuk membuat papan lantai dan tiang yang kuat. Bahkan ada cukup kayu untuk membuat dindingnya. Gunakan dahan kecil dan daun besar untuk atapnya. Ada banyak.”
Demikianlah, hari berikutnya, pemuda itu mengambil seluruh dahan dan daun untuk membuat rumahnya, menyisakan hanya batangnya. Meski itu melukai pohon itu dengan parah, pohon itu bahagia membuat pengorbanan besar untuk seseorang yang dicintainya.
Selama bertahun-tahun, anak itu tidak pernah kembali. Pohon itu bergantung pada kenangan bahagianya untuk mempertahankan hidupnya.
Kala anak itu datang lagi, kini menjadi pria setengah baya, pohon itu nyaris melompat keluar dari tanah dengan sukacita. “Selamat datang! Sungguh bahagia melihatmu lagi!” Bahkan kali ini burung-burung pun bisa mendengar pohon itu. “Apa yang bisa kulakukan untukmu? Mohon izinkan aku membantu.”
“Aku kini punya anak,” jawab pria itu, “dan aku ingin memulai usaha perabotanku sendiri untuk mendapat cukup uang untuk memberi mereka kehidupan yang baik.”
“Bagus sekali,” kata pohon tua itu, “meski kamu mungkin berpikir aku cuma tunggul tua, ada banyak kayu indah dalam batangku untuk membuat banyak perabot mahal. Ambillah. Aku akan bahagia jika kamu ambil semua.”
Maka pria itu datang esoknya, menebang batang pohon itu dan mendapat cukup banyak kayu kelas satu untuk memulai usaha perabotannya.
Tak lama setelahnya, pohon itu mati.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu, kini telah menjadi orangtua, mengunjungi tempat dimana pohon yang sehat itu pernah berdiri, tempat ia membangun rumah pohon semasa ia kecil, yang selalu begitu dermawan kepadanya. Yang tersisa hanyalah akar yang melapuk. Orang tua itu membaringkan kepalanya di atas akar-akar itu sejenak. Akar itu jauh lebih nyaman daripada bantal bulu. Ia ingat dengan berurai air mata bagaimana pohon itu telah menolongnya, tanpa bertanya, tiap kali ia membutuhkan pertolongan. Bagaimana pohon itu mengorbankan segalanya untuknya, dan bahagia melakukannya setiap saat. Ia pu tertidur.
Ketika ia bangun dari mimpi itu, ia menyadari bahwa pohon itu adalah orangtuanya.


22 FEBRUARI 2013

22 FEBRUARI 2013

Pada malam kamis tgl 21 februari 2013 seperti biasa saya dan adik saya bercanda, namun kali ini mungkin canda ku pda adik ku
agak sedikit berlebihan, diman pada waktu itu adik ku sedang mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat magrib, dan aku pun 
mematikan lampu kamar mandi dan menakut-nakutinya sehingga dia pun menjerit ketakutan. namun adik saya tidak marah, aku jadi
heran kenapa adik saya tidak sepertibiasanya, yang biasanya bila bercanda dia pasti marah, namaun pada kali ini dia malah 
tertawa.
kesesokan harinya seperti biasa kami melakukan rutinatas yaitu sekolah, adik saya sekolah di SMPN 1 Cigeulis kelas 7, 
dan saya sekolah di MAN Panimbang kelas 12. setiap pagi kami berdua sering rebutan kamar mandi, maklum di rumah kami kamar mandi
hanya ada satu, dan biasanya saya yang selalu dapat mandi pertama, karena saya sekolahnya jauh. setelah saya mandi adik saya juga
selesai mandi, kami pun siap untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh ibunda tercinta diatas meja. setelah itu saya pun berangkat
ke sekolah seperti baisa, begitu juga dengan adik saya. namun pada hari itu saya pulang sore karena ada kegiatan bimbingan belajar
karena ujian nasionl sudah didepan mata,. setelah jam pelajaran terakhir habis seperti biasa saya tidak langsung  pulang 
karena menunggu guru bimbingan belajar datang, namau setelah beberapa jam menunggu tiba-tiba suara han phone saya berbunyi
dan ternyata pesan dari guru bimbel yang menyatakan bahwa bimbel di liburkan. Dan akhirnya saya pulng lebih awal sekitar
pukul 15.00 WIB. Sesampainya dirumah saya bertemu dengan adik saya, seperti biasa dia sedang asik memainkan hand phone nya
dan saya langsung masuk kamar untuk ganti baju dan shalat ashar. tiba-tiba terdengar suara ponsel di atas meja makan
dan saya pun menerima panggilan telephone, tiba-tiba adik saya berteriak"jangan di angkat" dia pun langsung mengambil handphone nya 
dengan raut muka yang marah, saya pun kembali ke kamar, dan adik saya pun melnjutkan mandi sorenya.
setelah itu saya menyalakan TV, dan adik saya melintas dihadapan saya sambil menjulurkan lidahnya ( tanda mengejek )
dan dia pun pergi keluar rumah.
setelah jarum jam menunjukan pukul 17.15 WIB adik saya pun tak kunjung pulang, dan ibu saya menanyakan kepada saya, dan saya pun 
tidak tau kemana perginya dia karena suadah kebiasaan adik saya jika berpergian tidak pamitan dulu.
setelah itu hp saya berbunyi, dan saya lihat ternyata ada pesan dan bunyi dari pesan itu " de adik mu kecelakaan " tadinya saya tidak 
percaya, dan tiba-tiba ada dering telephon lagi namun masuk ke nomor orang tua saya, dan saya angkat telepon itu lalu terdengar suara ramai
dan orang itu berkata " ida kecelakaan sekarang lagi dibawa ke puskesmas tunggu di puskesmas" itulah percakapan yang saya ingat.
tadinya saya pun bersiakap tenang dan berfikir adik saya kecelakaan paling luka ringan saja, akan tetapi setelah saya lihat di puskesmas
sudah banyak kerumunan orang-orang,saya langsung masuk dan saya tidak kuat menahan air mata meliha adik saya terbaring tak sadarkan diri
para perawat yang menangani adik saya sudah angkat tangan karena minimnya peralatan dan memberikan saran untuk segera di rujuk kerumah sakit, sedangkan rumah sakit 
sangat jauh dari rumah saya. tidak ada pilihan lain akhirnaya saya dan bapak saya mencoba untuk tetap tegar, isak tangis ibu saya, saudara saya
kian bergantian. saya mencoba menenangkan ibu saya yang menagis histeris. pada pukul 18.00 WIb akhirnaya saya berangkat membawa adik saya 
ke ruamah sakit Daerah yang perjalanan hampir 2 jam, dalam perjalanan adik saya masih tidak sadar dan hanya ngamuk dan ngamuk tidak henti.
akhirnya sampai di ruamah sakit daerah dan masuak ruang UGD, namun setelah diperiksa ternyata para perawat di Rumah Sakit daerah pun tidak
sanggup dan meminta untuk dirujuk kembali ke RUMAH SAKIT SARI ASIH SERANG dan tanpa fikir panjang kami langsung berangkat.
setibanya di sana adik saya pun dirawat. Dan saya pun tak henti-hentinya memanjatkan doa agar adik saya cepat sadar.
ketika saya sedang menemani adik saya tiba-tiba pintu terbuka dan datang seorang dokter dan berkata "lukanya cukup parah, karena benturan yang
cukup kuat sehingga terdapat gumpalan darah didalam otak kanan nya " mendengar perkataan seperti itu membuat saya kembali meneteskan air mata
setelah jarum jam menunjukan pukul 03.00 ibu saya datang dalam keadaan sangat lemas dan tidak sanggup untuk melihat keadaan anak permpuan satu-satunya
terbujur kaku. Dan saya pun mencoba untuk menenangkan ibu saya.
tak terasa jaraum jam menunjukan pukul 07.00 dan adik saya pun dipindahkan dari ruangan UGD ke ruang ICU . ruangan ICU lebih ketat sekali penjagaannya
di mana jika saya ingin melihat keadan adik saya saya harus menyesuaikan jadwal.
pada pukul 11.00 saya menemui ibu saya dan berkata " bu jangn nangis terus berdo'a dan yakin lah ida pasti sembuh"
karena kondisi adik saya tidak kunjung membaik akhirnya bapak saya memutuskan untuk membawa pulang adik saya, sehingga ibu saya di pulangkan duluan 
ke rumah karena kondisinya yang mulai lemah.
pada pukul 14.40 saya, bapak saya, paman saya, masuk ke kamar dimana adik saya dirawat, namun kondisinya pun masih tidak kunjung membaik
dan air mata saya kembali mengalir melihat sang adik satu-satunya terbujur kaku. dan pada pukul 15.05 adik saya IDA ROHIMAH membuka matanya
dan melirik kepada orang yang ada disekitarnya, perasaan saya jadi sedikit tenang, ternyata kondisinya makin kritis, kondisinya tambah parah
dan pada pukul 15.15 tangggal 22 Januari 2013 hari Jumaat adik saya IDA ROHIMAH MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA di pangkuan saya. Pada saat itu perasaan saya bagaikan mimpi, 
merasa tak percaya adik tercinta, adik satu-satunya meninggalkan saya secepat itu.
di situ saya mulai tak berdaya, air mata tak henti-hentinya mengalir. Namun tiada guan lagi karena walau pun tangisan saya sampai membajiri
rumah sakit itu tidak mungkin bisa membangunkan kembali adik saya. dan saya pun mencoba merelakannya.
dan pada pukul 15.50 adik saya pun dibawa pulang kerumah untuk disemayamkan, disepanjang jalan air mata ku tidak bisa berhenti menetes,
pada pukul 18.30 akhirnya sampai di rumah, dimana ternya dihalaman rumah suadah banayak orang-orang yang menunggu kedatangan kamai.
karena saking lemasnya saya tidak bisa turun dari mobil ambulance dan harus dipapah, ditambah lagi meliha ibu saya yang menangis histeris
didalam rumah, belum lagi mendengar tangisan saudara-sauadara saya, tangisan teman-teman adik saya, semau menjadi satu.
keesokan harinya adik saya pun disemayamkan, saya pun ikut mengantar kepergian adik saya tercianta, sesampai nya di TPU (Tempat Pemakaman Umum)
air mata saya tidak bisa ditahan lagi melihat kepergian adik saya tercinta meninggakan saya dan keluarga untuk selalmannya.


Dan hari-hari pun terus berlalau, dan membuat hidup saya tidak lagi menjadi semangat.
rumah yang tadinya selalu ramai dengan penuh canda tawa bersamanya kini menjadi hening dan sunyi.
hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalau, bulan demi bulan berlalu, dan akhirnya saya harus 
memfokuskan kembali ke sekolah saya. Karena UJIAN NASIONAL suadh didepan mata.
setelah saya mengikuti Ujian Nasioanal dan LULUS dengan hasil yang cukup memuaskan, dan menjadi juara umum.
akhirnya saya pun memutuskan unuk melanjutkan kuliah karena ingin membahagiakan orang tua saya.
SAYA ANAK SATU-SATUNYA HARAPAN ORANG TUA SAYA saya harus sukses, dan mulai kembali bangkit semangat.

SELAMAT JALAN IDA SEMOGA KAU TENANG DI ALAM SANA CANDA TAWA MU TAKAN PERNAH HILANG
DALAM SETIAP LANGKAH KAU SELALU ADA. GAPAILAH DO'A YANG SELALU KUBACA MENEMANI LANGKAHMU MENUJU SINGGAH SANA SURGA.

Langit seakan mendung seiring air hujan tumpah ruah kebumi
saat itulah engkau pergi untuk selama-lamanya dari tengah-tengah kelaurga
meninggalkan sejuta kenangan dan luka yang sangat perih
engkau terbujur kakau berselumut kain tak terjahit
sekujur tubuhmu dingin bak ES
air mata membanjiri ruang tamu yang biasana ramai dengan tawamu
kepergianmu yang terlalu cepat membuatku tak percaya
bagitu cepat engkau pergi meninggalkan aku sendiri
kau tak memberiku waktu sedikitpun walau hanya untuk mengucap sebuah kata MAAF
segala khilafku pada mu
aku  tidak tahu harus mengadu kemana ?
aku. aku kini benar-benar sendiri kenapa tuhan terlalu cepat memanggilmu
jika saja bisa diminta aku ingin ikut bersamamu
melewati dinginnya malam diantara bongkahan tanah yang lembab.
dan andaikan saja boleh meminta
aku ingin kau menjepmutku 
aku ingin menemanimu berbagi duka di alam keabadian
selamat jalan adiku
selamat jalan adiku sayang
selamanya kau akan hidup di dalam hati 

Kini Satu Tahun Sudah Kau meninggalkan Kami

 MISS U IDA ROHIMAH
 LOVE U IDA ROHIMAH
 11 JANUARI 2000
 22 FEBRUARI 2013

IBX5A7156260C64D